Pendekatan Model Rea dalam Perancangan Database Sistem Informasi Akuntansi Siklus Pendapatan

Bookmark and Share
Oviliani Yenty Yuliana; Faculty of Economics, Petra Christian University

Database yang memenuhi aturan normalisasi diperlukan untuk menunjang Sistem Informasi Akuntansi (SIA) terkomputerisasi. Alat yang biasa digunakan untuk merancang database adalah Entity Relationship Model (Model E-R). Namun aturan penggambaran diagram tidak begitu jelas, sehingga mempersulit perancang data untuk membentuk database yang memenuhi aturan normalisasi. Model REA merupakan pengembangan dari Model E-R. Model REA menerapkan prinsip give-toget, sehingga mempermudah pembentukan model data.
Dalam tulisan ini dibahas Logical dan Physical View data, schema, Model REA, menyusun diagram REA, tahap-tahap perancangan database dan peran serta akuntan, serta cara mengimplementasikan Model REA ke database relasional, khususnya pada siklus pendapatan.
Kata kunci: Database, Model E-R, Model REA, SIA, Siklus Pendapatan
Kemajuan teknologi komputer dan informasi berdampak pada cara pencatatan akuntansi tradisional, dimana penyajian informasi keuangan dari SIA manual yang berdasarkan historical cost, dengan adanya teknologi komputer, maka informasi keuangan dapat disajikan berdasarkan current replacemenrt cost dan market value. SIA yang terkomputerisasi memungkinkan pemakai laporan keuangan dapat melihat laporan keuangan setiap saat secara cepat, akurat, dan benar. Dengan bantuan komputer, data yang dicatat bukan hanya data keuangan saja, melainkan data lain seperti: data pelanggan dan penjualan. Data non-keuangan dapat dianalisis untuk menghasilkan informasi non-keuangan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan strategik dalam mencapai tujuan perusahaan (Santosa 1999:2).
SIA terkomputerisasi dapat menyajikan informasi keuangan dan non-keuangan dengan mudah karena didukung oleh database. Dengan adanya database, maka data dapat terintegrasi, duplikasi dapat dikurangi, format data tidak tergantung pada aplikasi program, memudahkan pemakai data, menyajikan informasi dengan bantuan bahasa query (Kroenke 2000:13-14). Dalam rangka mengurangi duplikasi/pengulangan data, ada indikasi untuk meninggalkan model double-entry bookeeping (Romney 2000:161). Hal tersebut merupakan tantangan bagi akuntan untuk memahami database lebih jauh.
Whitten (2000:133-173) berpendapat bahwa Joint Project Planning (JPP) dan Joint Requirements Planning (JRP) merupakan strategi yang paling efektif dan tercepat dalam merancang sistem. JPP merupakan strategi dimana semua stakeholders project (system owners, users, analysts, designers dan builders) berpartisipasi dalam ruang kerja project management. Dari JPP dapat ditentukan: lingkup projek, rencana kerja, sumber, dan anggaran. Sedangkan JRP merupakan teknik yang menggunakan ruang kerja untuk mempertemukan system owners, users, analysts, designers dan builders untuk bersama-sama menganalisis sistem.
Whitten (1994:43) mengelompokkan building block-people menjadi beberapa system users, salah satunya adalah technical and professional staff. Orang yang berada pada kelompok technical and professional staff memiliki keahlian khusus, misalnya akuntan. Dengan demikian akuntan berperan dalam perencanaan di atas. Akuntan tidak hanya berperan dalam perencanaan, tetapi berperan pada keseluruhan perancangan database. Akuntan berperan dalam perancangan conceptual, external, dan internal-level schema. Oleh sebab itu akuntan harus memiliki pengetahuan sistem database yang baik, sehingga dapat berpartisipasi dalam merancang SIA terkomputerisasi. Partisipasi akuntan yang utama adalah menjamin bahwa pengawasan memadai diterapkan dalam sistem database, guna menjaga data. Akuntan juga harus memberi keyakinan bahwa informasi yang dihasilkan dapat dipercaya.
Berdasarkan pengamatan terhadap mahasiswa yang menempuh mata kuliah Database Manajemen Sistem, yang penulis asuh sejak tahun 1996 di Jurusan Akuntansi Universitas Kristen Petra, mahasiswa mengalami kesulitan dalam menggambarkan Diagram Entity-Relationship (ERD). Entity apa yang harus disertakan, attribute apa yang harus dicantumkan pada masing-masing Entity. Umumnya mahasiswa menggambarkan ERD seperti pada Gambar 1(A), sebenarnya penggambaran tersebut tidak terlalu salah, walaupun cukup sulit untuk menghasilkan database yang memenuhi normalisasi (Yuliana 2001:37). Penulis harus mengilustrasi seperti pada Gambar 1(B), sehingga mahasiswa dapat menggambarkan ERD seperti pada Gambar 1(C). Karena mahasiswa akuntansi sudah memahami siklus-siklus akuntansi, maka ada cara pendekatan lain, yaitu Diagram REA. Pada tulisan ini diagram REA diterapkan hanya pada siklus pendapatan.

Selengkapnya download artikel jurnal sistem informasi akuntansi.
Download: Pendekatan Model Rea dalam Perancangan Database Sistem Informasi Akuntansi Siklus Pendapatan

No comments: